Ya, rasannya saya ingin berlari sekencang-kencangnya, secepat-cepatnya, tanpa melihat lagi ke belakang, tanpa mengulas lagi yang sudah terjadi.
Keputusan itu berasal dari hati, tanpa dorongan orang lain, apalagi hati orang lain.
Tetap saja saya merasa sesak kehilangan sosok yang cukup berarti, karena hal ini menyangkut perasaan, tentunya seberapa keras kerja otak memerintah untuk tidak merasakannya, tapi lagi-lagi hati gak bisa berbohong.
Ini resikonya, dan ini yang harus saya tanggung.
Hanya saja satu hal yang saya takuti, yaitu pendapat orang lain terhadap apa yang terjadi dengan saya. Terlalu khawatir dengan opini-opini buruk. Padahal orang lain belum tentu tau apa yang harus saya hadapi apa yang sudah saya hadapi dan proses sebelumnya. Yah, kebanyakan dari mereka (termasuk kamu dan saya) juga melihat segala hal dari hal yang terlihat. Saya harus lebih keras lagi untuk hanya 'memerhatikan' diri saya sendiri ketimbang pendapat orang lain tentang hidup saya yang belum tentu mereka tau. Karena semua keputusan tentang diri saya adalah tanggungjawab saya sendiri, bukan mereka, bukan siapapun.
Kali ini saya memang merasa sedih dengan kondisi yang mengharuskan saya untuk menjalani hidup yang lebih kuat lagi. Mengawali perkuliahan nanti dengan kondisi yang baru, seperti diawal saya memasuki dunia perkuliahan, benar-benar sendiri, dan harus lebih kuat tentunya. Kalau bisa, saya akan berusaha untuk berlari, mengejar apa yang belum saya kejar selama ini, dan menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari.
Tapi, saya akan membiarkan perasaan ini tetap mengalir, sebagaimana apa kata hati saya yang tidak bisa saya tolak ataupun menerima mentah-mentah. Saya tetap menghargai apa yang saya rasakan, karena perasaan itu tidak bisa berbohong.
Aku rindu,
Cilegon, kamar Putri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar